Sabtu, 01 Februari 2014

Review Novel Serial Pingkan 1



Judul Buku                  : Serial Pingkan, “Sehangat Mentari Musim Semi”
Penulis                         : Muthmainnah
Penerbit                       : Pingkan Publishing
Tahun Terbit                : September 2009
ISBN                           : 978-979-1397-59-9
Tebal Buku                  : 320 hlm
Ukuran Buku              : 14 cm
Harga                          : Rp32.000,-
Kategori                      : Fiksi Islami

Sehangat Mentari Musim Semi
            Pingkan Rahma, gadis Minang asli, berangkat ke Perth, Australia, untuk melanjutkan studi ke universitas Murdoch atas tawaran Tom, abang angkatnya yang dulu pernah tinggal selama setahun di rumah Pingkan waktu pertukaran pelajar. Pingkan gadis mandiri dan cerdas. Di Perth, Pingkan bekerja part time sebagai pelayan di Bell’s Cafe. Bahkan, secara tak terduga Pingkan juga mendapat kesempatan menjadi model iklan, lumayan papan atas pula. Di kampus, Pingkan juga berhasil masuk jurusan Fisika dan meraih average point (IPK 3,8).

            Perjalanan Pingkan di Perth bergulir dalam waktu yang terus membawa hal-hal baru dalam kehidupan Pingkan. Perkenalan Pingkan dengan Beth, Daphne, Diana, Stef, Reni, juga sisters dan brothers di IMSA membawa warna baru bagi hari-hari Ping. Pingkan juga berkenalan dekat bahkan menjadi cucu angkat Nenek Lauren, seorang nenek tua yang kesepian namun amat lembut dan penyayang. Berbagai masalah pun hadir satu persatu dalam hari-hari Pingkan. Masalah dengan Tom dan Beth, pertikaian dengan Ni Lis, kepergian nenek Lauren, serta seabrek persoalan lain hingga perjodohan sepihak keluarga Pingkan dengan seorang ikhwan pun menambah rentetan kisah dalam hidup Pingkan. Sanggupkah Pingkan menghadapi persoalan-persoalan itu? Bagaimana serunya metamorfosis Pingkan dalam menggapai hidayah dan menjadi pelita bagi teman-temannya yang nonmuslim? Bagaimana seorang Pingkan Rahma menyesuaikan nilai-nilai Islam dalam kehidupannya dan orang-orang sekitar di tengah-tengah hiruk pikuk hedonisnya kehidupan di Perth? Temukan jawannya dalam novel inspiratif dan menggugah ini.
*****
            Menakjubkan! Begitulah kesan yang saya dapatkan pertama kali usai membaca novel ini tahun 2009 lalu. Novel yang terjual lebih dari 40.000 eksemplar dan menjadi best seller ini sangat menginspirasi dan memberi pencerahan, apalagi tokoh utamanya seorang gadis muslimah, yang diwakili oleh sosok Pingkan Rahma. Sosok Pingkan Rahma yang awalnya ditampilkan seperti gadis kebanyakan namun di tengah perjalanan hidupnya mampu menemukan dan menggapai hidayah untuk berhijab mampu menggaet pembaca untuk larut dan merasakan ceritanya. Membaca setiap ceritanya kadang membuat tersenyum, terharu, juga menitikkan air mata.
            Novel ini memuat kisah yang sarat akan pesan dan nilai-nilai Islami. Sekali pun begitu, ceritanya mengalir begitu lancar, ringan, dan seru sehingga pembaca tak perlu mengerutkan kening untuk mencerna nilai-nilai yang terkandung di dalamnya. Metamorfosis seorang Pingkan dari gadis yang usil dan sering ceroboh menjadi sosok muslimah yang dewasa mengalir dengan begitu memesona tanpa kehilangan keceriaan ceritanya. Sosok Pingkan tetap menjadi diri sendiri dengan selaksa hal yang mendewasakannya hingga mampu menjadi magnet yang menarik dan menginspirasi sahabat-sahabat dan orang-orang terdekatnya untuk ikut dalam Islam yang kaffah. Sosok Pingkan sangat menginspirasi, terutama bagi para muslimah yang sedang mencari jati diri. Pelajaran demi pelajaran yang terkandung di dalam buku ini dapat diambil untuk diterapkan dalam kehidupan sehari-hari. Begitu bijak dan menarik.
            Konflik demi konflik yang disajikan beserta solusinya dituturkan dengan apik melalui dialog-dialog yang rancak dan menyentuh. Konflik-konfliknya tidak saling tumpang tindih, solusi-solusi yang diberikan disajikan dengan sederhana namun sangat mendalam. Persoalan-persoalan yang ditampilkan seiring aktivitas tokoh utamanya (Pingkan) memang beragam, memberikan warna yang tidak monoton ketika membaca novel ini. Namun keseluruhan pesannya saya simpulkan menjadi beberapa bagian. Pertama, tentang perjalanan seseorang (muslimah) dalam menggapai hidayah seiring waktu. Artinya seorang muslimah mesti bijak dalam mengambil hikmah setiap kejadian dalam hidupnya. Kedua, mu’amamalah dengan sesama, bagaimana agar hidayah itu tidak hanya menjadi milik diri sendiri, tetapi bagaimana kita dapat menarik orang lain agar turut merasakan dan menerapkan ajaran Islam yang benar di manapun kita berada. Ketiga, mu’amalah terhadap orang tua dan keluarga. Keempat, masih berkaitan dengan yang kedua namun lebih spesifik, mengenai adab pergaulan dengan lawan jenis.
            Pertama, tentang perjalanan seseorang (muslimah) dalam menggapai hidayah seiring waktu. Artinya seorang muslimah mesti bijak dalam mengambil hikmah setiap kejadian dalam hidupnya. Hal ini terlihat dalam kisah Pingkan dalam menghadapi hari-harinya yang tak luput dari masalah dan persoalan yang kadang menekan batinnya. Namun Pingkan tak menyerah meski seorang Pingkan juga tak setegar karang. Namun intinya adalah bagaimana Pingkan mampu menghadapi persoalan-persoalan itu dengan bijak dan mengambil hikmah persoalan tersebut. sikap Pingkan inilah yang mengantarkannya pada hidayah untuk berhijab. Pelajaran ini dapat diterapkan seorang muslimah dalam hidupnya, apalagi bagi kita yang sedang mencari jati diri agar mampu bersikap bijak kemudian mengambil hikmah dan menerapkan dalam kehidupan.
            Kedua, mu’amamalah dengan sesama, bagaimana agar hidayah itu tidak hanya menjadi milik diri sendiri, tetapi bagaimana kita dapat menarik orang lain agar turut merasakan dan menerapkan ajaran Islam yang benar di manapun kita berada. Pada kisah Pingkan dalam novel ini, kisah disajiakn dengan begitu menarik dan mengharukan bagaimana Pingkan mencari metode untuk menyentuh hati sahabat-sahabatnya yang muslim dan nonmuslim untuk merasakan keindahan Islam. Suatu perbuatan yang mendatangkan pahala untuk diri dan sesama. Sangat menginspirasi.
            Ketiga, mu’amalah terhadap orang tua dan keluarga. Konflik yang dihadapi Pingkan yang membuatnya terasa menentang sang uni dan orang tuanya terlihat ditampilkan dalam kisah yang tentu berat bagi seorang muslimah. Disinilah Pingkan secara tidak langsung dituntut untuk menerapkan pemahamannya akan Islam terhadap hubungan dan kepatuhannya terhadap keluarga. Masalah yang sering juga dialami oleh kita para muslimah sehingga kita dapat belajar dan mengambil hikmah melalui kisah Pingkan ini.
            Keempat, mengenai adab pergaulan dengan lawan jenis. Dalam novel ini, jelas sekali bagaimana penulis menerangkan adab pergaulan dengan lawan jenis melalui kisah yang ringan tentang Pingkan dan kawan-kawan bagaimana mesti bersikap terhadap para ikhwan (brothers) dan rekan lelaki yang lainnya. Tentu ini adalah pelajaran yang sangat penting terkait kehormatan seorang muslimah.
            So, sosok Pingkan beserta cerita dan kisahnya benar-benar tampil menggugah semangat dan jiwa pembaca, khususnya muslimah. Muslimah mana yang tak ingin menjadi mahasiswi cerdas di kampus terkenal dengan IPK nyaris sempurna, mandiri, namun tetap menjaga izzah dan nilai-nilai Islam? Muslimah yang hangat, sehangat mentari musim semi. Tertarik? Yup, baca novel ini ^_^




0 komentar:

Posting Komentar