Minggu, 28 Februari 2016

Menjadi A Smart Writer, Siapa Takut? 1st Giveaway Smart Writer


Bisa dimulai dengan menulis diary
Menjadi A Smart Writer, Siapa Takut?

Orang boleh pandai setinggi langit, tapi selama ia tidak menulis, ia akan hilang di dalam masyarakat dan dari sejarah. Menulis adalah bekerja untuk keabadian.”
(Pramoedya Ananta Toer)

Menulis.
Menulis bagiku adalah sebuah cara, sebuah solusi mudah, murah dan gratis, sekaligus terapi yang menjaga jiwaku tetap dalam kewarasan. Lebay? Tidak bagiku. Nyatanya, hampir tiga dasawarsa menjalani hidup, ada banyak mimpi dan cita-cita yang tak menggapai nyata dalam realita. Slide-slide sad moments yang tak jua hilang jejak dari memori dan ruang rasa, kerap menggerus ceria yang harusnya selalu tercipta. Maka menulis meski hanya di lembaran diary bisu selalu mejadi cara ampuh melegakan perasaan.
Menulis memang telah menjadi kebiasaanku sejak masih berseragam merah putih. Aku tipe pendiam. Ketika marah, aku kerap menulis di lembaran-lembaran kertas buku tulis yang tak lagi terpakai. Pernah suatu hari semasa SMA, aku sengaja mudik karena merindukan semangkuk bubur kacang ijo buatan emak. Tetapi, sesampainya di rumah, emak tak bisa membuatkannya karena harus bepergian. Aku kecewa. Maka sebelum kembali ke kota, kutuliskan isi hatiku di selembar kertas dan meninggalkannya di kaca lemari emak. Pun ketika suatu hari sedihku memuncak karena bapak dan emak tak mengijinkanku kuliah ke tempat jauh, aku menempelkan puisiku di secarik kertas di kaca lemari emak. Kebiasaan menulis itu terbawa hingga ke bangku kuliah. Saat-saat menanti dosen atau ketika diri tak bersemangat menyimak penjelasan dosen, aku menulis, menulis, dan menulis berlembar-lembar puisi di kertas binder. Tulisan-tulisan yang tetap tersimpan hanya sebatas di lembaran kertas.
Selain menulis, aku juga suka sekali membaca, terutama novel-novel sastra lama. Bahasanya indah dan maknanya mendalam. Tahun kedua kuliah, aku mulai rutin membeli novel dan buku-buku bacaan lainnya seputar dunia perempuan dan motivasi atau yang bersifat snack for soul. Novel pertama yang kubeli saat itu adalah novel Pingkan, Sehangat Mentari Musim Semi. Novel yang mampu menggerakkan semangat hijrah. Aku juga membeli buku Be a Smart Writer karyanya Mbak Afifah Afra. Buku yang bagus dan penuh motivasi untuk bisa menulis.
Membaca banyak novel dan aneka buku membuatku senang. Kadang bahagia membuncah, ikut terharu, mata menggerimis hingga sesenggukan, nano-nano. Aku mulai berpikir alangkah dahsyatnya kekuatan kata-kata yang berkelindan indah dalam buku-buku tersebut. Terkadang berisi hal-hal sederhana yang dikisahkan dengan indah penuh hikmah. Aku jatuh cinta. Cinta yang membuai pada buku-buku dan kepenulisan. Aku ingin menjadi penulis, pasti! Menelurkan buku-buku karya sendiri.
Ibarat asa yang telah menemukan tujuan namun masih merancang peta perjalanan, aku pun demikian. Menjadi penulis? Apa yang mesti kulalukan dan bagaimana? Siapa yang bisa mendekatkan aku pada cita-cita itu? Aku pun mencari-cari. Bak gayung bersambut, aku menyadari ternyata dua dari lima orang sahabat karibku di bangku kuliah juga suka menulis dan memiliki asa yang sama. Asa yang kian bergairah tatkala FLP Mataram membuka pendaftaran untuk calon anggota baru tahun 2011 silam. Sayang, gairah itu punah seketika karena pada hari aku dan temanku harus mengikuti wawancara FLP, soerang dosen killer dengan angkuhnya mengharuskan kami mengerjakan quiz meski itu bukan jam mengajarnya. Aku kecewa, mati rasa.
Dua tahun berselang, FLP Mataram kembali membuka pendaftaran. Aku dan seorang temanku mendaftar. Sayang, geliatnya tak selincah FLP-FLP di luaran sana. Maka aku mulai mengikuti kelas menulis online yang diselenggarakan gratis melalui akun facebook salah satu penerbit ternama. Hanya saja, aku yang kurang bersemangat. Sampai aku menemukan pesan dari Pramoedya Ananta Toer di sebuah buku, “Orang boleh pandai setinggi langit, tapi selama ia tidak menulis, ia akan hilang di dalam masyarakat dan dari sejarah. Menulis adalah bekerja untuk keabadian.” Aku tak mau hanya sekedar hidup lalu mati tanpa meninggalkan manfaat. Aku pun percaya bahwa setiap orang bisa menulis. Hanya saja, terkadang butuh kekuatan tekad dan niat yang kuat untuk menulis kebaikan untuk mencerahkan sesama, semata-mata untuk mencari keridhoan Allah SWT. Maka, menulis dengan niat yang benar, menghasilkan buku yang bermanfaat adalah harapan terbesarku. Setidaknya untuk kuwariskan ke anak cucu.
Tahun 2015, aku menemukan info kelas menulis online Smart Writer di facebook yang digawangi penulis sekaligus blogger handal, Riawani Elyta dan Leyla Hana. Untuk Mbak Leyla Hana, aku belum memiliki buku-bukunya, tapi mengikuti beritanya di fb. Sebuah bukunya yang belum pernah kubaca namun membuatku terkesan dengan judulnya, Perjanjian Yang Kuat. Semoga memilikinya suatu hari nanti. Sedangkan Mbak Riawani Elyta, aku menemukan profilnya di fb dan mulai mengoleksi novel-novel dan buku karyanya. Novel karyanya yang pertama kumiliki, Jasmine, kemudian Perjalanan Hati yang sukses membuatku terkesan hingga sekarang, lalu novel dan buku-bukunya yang lain. Aku tak mudah "jatuh cinta" pada seorang penulis, namun kepada Mbak RiawaniElyta, aku jatuh cinta padanya lewat novel-novelnya yang selalu mengetengahkan isu-isu sosial yang faktanya memang terjadi di masyarakat dan tak banyak yang menulisnya, atau tentang roman-roman sederhana yang kadang menjadi permasalah utama dalam kehidupan berumah tangga, aku suka. Salutku karena ia seorang PNS dengan jam kerjanya yang rutin, tentu saja. Tapi mampu memanajemen waktu hingga produktivitasnya terus meningkat, menurutku. Aku ingin, ingin sepertinya. Menghasilkan buku-buku berkualitas. Semoga, aamiiin... Ini bukan sanjungan untuk yang sifatnya “menjilat” lho ya, tapi tulus dari a true admirer ^_^
Sebagian buku Mbak Riawani Elyta koleksi saya

So, ketika mimpi menemukan jalan untuk menuntunnya sampai pada tujuan, ketika aku yang ingin menjadi penulis menemukan info giveaway Smart Writer ini dengan hadiah yang benar-benar tepat, apa alasanku untuk tak menguatkan tekad mengikutinya? Berkumpul bersama para penulis dan bergaul dengan orang-orang dengan passion yang sama adalah berkah. Hatta nanti tulisanku pun tak mampu menjadi pemenang, setidaknya aku berusaha. Insya Allah, pasti selalu ada jalan buat mereka yang benar-benar berusaha, it is right?
Selamat untuk Kursus Menulis Online Smart Writer. Semoga terus bertumbuh menjadi wadah bimbingan bagi mereka yang bertekad kuat untuk menulis untuk kebaikan. Semoga rahmat senantiasa mengalir untuk para tutornya ^_^
Semoga Allah wujudkan cita-citaku, menjadi penulis dan menerbitkan buku yang bermanfaat untuk diri sendiri juga sesama. Buku yang isinya dapat menjadi pemberat timbangan amal kebajikan, dapat kupertanggungjawabkan kelak di hadapan-Nya. Buku yang menjadi bukti sekaligus salah satu bentuk kesyukuran bahwa pernah ada seorang hamba Allah bernama Sri Darmawati di muka bumi. Aku ingin melalui buku itu jati diriku ada bagi anak cucuku... dan be a smart writer, siapa takut?
 Nah, itu dia satu tekadku. Kalau kamu???


Tulisan ini diikutsertakan dalam 1st Giveaway Smart Writer http://smartnulis.blogspot.co.id/2016/02/1st-giveaway-smart-writer.html







4 komentar:

Titis Ayuningsih mengatakan...

Tetap semangat menulis ^^

Azzahra Fathurahman mengatakan...

Terima kasih Mbak Titis Ayuningsih ^_^

Leyla Hana Menulis mengatakan...

Aamin.. Semoga cita-citanya terwujud ya, mba :-)

Santi Dewi mengatakan...

iya mba, membaca kadang bisa membuat kita ikut tertawa senang, kadang ikut menangis. Itulah rangkaian kalimat

Posting Komentar