Rabu, 20 Januari 2016


Judul Buku      : Sayap Sayap Mawaddah
Penulis             : Afifah Afra
                          Riawani Elyta
Penerbit           : Penerbit Indiva
                         (Indiva Media Kreasi)
Tahun Terbit    : Juli 2015
Tebal Buku      : 208 hlm
Ukuran Buku  : 19cm
ISBN               : 978-602-1614-65-5

Mawaddah, Asyiknya Memadu Cinta dengan Gairah

Abu Hasan al-Mawardy, dalam an-Nukat Wa al-‘Uyun menjelaskan tentang mawaddah yang disarikan dari QS.ar-Rum : 21 yaitu sebagai al-Mahabbah (kecintaan), al-Jima’ (hubungan badan),dan  mencintai (kecintaan terhadap) orang dewasa. Maka, dapat didefiniskan bahwa mawaddah merupakan semacam perasaan cinta yang bersifat passionate (gairah), sebagaimana yang terjadi antara dua orang yang berlawanan jenis. Rindu dendam, mabuk cinta, merasa ingin selalu berdekatan dengan luapan kegairahan, ini adalah mawaddah. Satu-satunya ekspresi mawaddah yang diizinkan dan bahkan bisa bernilai ibadah adalah kepada suami atau istri, berupa jimak atau hubungan seksual. Tanpa hubungan pernikahan, hubungan seks dihukumi zina. (Sayap Sayap Mawaddah, hlm 24).

Mawaddah identik dengan keromantisan suami istri dalam rumah tangga. Tanpanya, dapat dibayangkan seperti apa hubungan bersama pasangan. “Dingin.” Komunikasi hanya sekedar basa basi. Hubungan suami istri kian merenggang, bahkan, bahaya yg paling dikhawatirkan adalah munculnya “orang ketiga”. Wah,,, seremmm... Lantas, bagaimana dan apa yang mesti dilakukan agar rumah tangga senantiasa hangat dan dipenuhi romantisme cinta? Bagaimana kalau pasangan bukan orang yang romantis? Kalau orang ketiga sudah terlanjur hadir, haruskah memilih mundur dan patah hati? Eittss. Jangan menyerah. Yuk kita simak pembahasan dari Sayap-Sayap Mawaddah. Siap-siap ya... J
*****
Sebelum membahas tentang isi bukunya, yuk kita berkenalan dulu dengan buku ini dan penulisnya. Buku Sayap-Sayap Mawaddah ini merupakan seri kedua dari buku sebelumnya, Sayap-Sayap Sakinah. Kedua buku ini adalah buku duet nonfiksi karya Afifah Afra dan Riawani Elyta yang bergenre pernikahan. Jika dalam buku Sayap-Sayap Sakinah yang dibahasa adalah dasar-dasar pernikahan, maka dalam buku Sayap-Sayap Mawaddah ini  pokok pembahasan difokuskan kepada permasalahan suami istri dalam rumah tangga dengan mawaddah sebagai fokus utama. Melengkapi pembahasan kedua penulisnya, ada juga bab khusus yang ditulis oleh dr.Ahmad Supriyanto yang tak lain adalah suami dari Afifah Afra. Ada bonusnya juga, berupa lima naskah inspiratif tentang pernikahan dari pemenang “Lomba Menulis Kisah Sejati Miracle Of Love In Marriage” yang pernah diadakan Indiva.
Hadir dengan cover berwarna merah merona, identik dengan gairah, attraktif dan menarik, sehingga sangat sesuai dengan temanya serta memikat mata yang memandang untuk kemudian dibaca. Desainnya elegan dengan pernak-pernik yang menarik. ^_^
Nah, kita lanjut yuk...
Sebuah hasil survey menyatakan bahwa negeri kita tercinta, Indonesia, menempati urutan teratas atau memiliki angka perceraian tertinggi se-Asia Pasifik. Selain itu, berdasarkan data-data yang dirilis pengadilan agama di Indonesia menyatakan bahwa 70% dari gugatan perceraian itu diajukan oleh pihak wanita (istri) dengan alasan ketidakharmonisan. Mengapa? Apa para istri megalami krisis kasih sayang dari suami? Bisa jadi. Yang jelas, tingginya angka perceraian tersebut mencerminkan betapa mawaddah seringkali terlupa untuk dipraktikkan sehari-hari dalam kehidupan berumah tangga.
Memangnya, apa itu mawaddah?
Mawaddah berasal dari kata wadda-yawaddu-wuddun-mawaddatan yang artinya adalah cinta. Secara spesifik, seperti dijabarkan dalam tafsir Ibnu Abbas, mawaddah diartikan cinta seorang istri kepada suaminya. Menurut Imam Baidlowi, mawaddah dikiaskan dengan jima’ (hubungan seksual antara suami istri), sedangkan menurut ar-Razi, kata mawaddah merupakan cinta seksual yang muncul dari hal-hal yang bersifat fisik. Di dalam Al-Quran, mawaddah disebut kan sebanyak 29 kali, sementara mahabbah dengan berbagai bentuknya disebut sebanyak 95 kali. (Sayap sayap Mawaddah, hlm 28).
Berangkat dari definisi bahwa mawaddah merupakan cinta penuh gairah antara suami istri, maka dapat dipahami mengapa adanya mawaddah dalam kehidupan berumah tangga merupakan sebuah syarat mutlak mewujudkan rumah tangga yang harmonis dan menghidupkan kehidupan. Mawaddah akan menghasilkan rahmah atau perasaan kasih sayang yang melanggengkan kehidupan rumah tangga. Tanpanya, kehidupan rumah tangga menjadi kering kerontang, keromantisan menguap entah kemana, bahkan menjadi hal tabu yang tak lagi indah pada pasangan.
Padahal, mawaddah merupakan unsur penting yang harus terlaksana. Mengapa? Karena laki-laki dan perempuan memiliki ketertarikan seksual atau Gharizah an-nau’. Pada laki-laki yang lebih dominan hasrat seksualnya, maka penyaluran kebutuhan biologis ini menjadi sangat penting dan genting bila tidak tersalurkan. Sebaliknya, pada perempuan, hasrat seksual ini harus diawali dengan perasaan cinta berupa kasih dan sayang dari suami. Perbedaan ini bila disatukan dengan kemauan untuk saling memahami, maka akan menjelma sebuah hubungan intim yang manis dan romantis suami istri yang tentu mencipta kepuasan. Apabila suami istri memperoleh kepuasan ini dalam rumah tangga, maka godaan munculnya wanita atau pria idaman lain setidaknya dapat ditepis.
Lalu jika hasrat kepada pasangan telah memudar, atau si dia sudah terlanjur selingkuh, haruskah memilih bertahan, poligami, atau bercerai? Wah, ini sebuah pertanyaan berdasar fenomena”kekinian” yang pasti disambut antusias oleh kaum wanita. Sebelum memutuskan mengambil pilihan kedua dan ketiga, ada baiknya kita belajar lagi untuk mencintai pasangan, berusaha memandang hal-hal positif yang bisa dipetik dari musibah yang menimpa rumah tangga kita. Terkadang, pembuktian cinta diperlukan ketika musibah melanda, bukan? Jangan sibuk menanyai diri sendiri juga pasangan, mengapa dia berpaling? Karena jawabnya ada pada diri dan pasangan dan juga faktor eksternal lain. Maka, romantislah. *-*
Akan tetapi, jika pasangan bukan orang yang romantis, bagaimana? Jangan khawatir. Dalam buku ini, penulis menjelaskan dengan baik apa yang mesti dilakukan. Menggunakan bahasa yang renyah dan attraktif, penulis mengajak pembaca berdialog sehingga para pembaca tidak akan mendapatkan kesan digurui ketika membaca buku ini. Sebaliknya, akan diperoleh kesan nyaman dan santai sehingga pembaca pun akan lebih mudah menyerap apa - apa yang disampaikan penulisnya. Kadang-kadang bahasannya membuat saya ketika membacanya jadi senyum – senyum sendiri, merona malu, bersemangat, serius, dan antusias dengan segala rencana untuk segera mempraktikkan tips – tips dan langkah konkrit yang disampaikan penulis dalam buku ini. Bagi saya, inilah yang menjadi salah satu kelebihan dari buku ini. Meskipun mengangkat tema yang serius, tapi dari segi bahasa yang digunakan bukan bahasa yang berat sehingga para pembaca tak perlu mengerutkan kening untuk mencerna apa yang disampaikan penulis dalam buku ini. Bahkan, penmbaca seolah-olah diajak berdialog oleh penulis sehingga tercipta perasaan “dekat” dan nyaman kala membacanya. Ada “koneksi jiwa”, begitulah saya menerjemahkannya.
Berdasarkan tema yang diangkat, yaitu seputar pernikahan, dengan menyoroti permasalahan yang sering dialami oleh pasangan suami istri dan menjadi faktor penting dalam menjaga keharmonisan dan keutuhan rumah tangga, buku ini adalah solusi yang saya rasa “wajib” untuk dimiliki guna menjadi referensi. Tentunya tak bermaksud mengesampingkan buku-buku yang lain dengan tema serupa. Tapi bagi saya yang sudah membacanya, saya merasa klik dan bisa mempraktikkan langsung tips-tips dari buku ini dalam kehidupan rumah tangga saya sehari-hari. Selain itu, tebalnya pas sehingga gampang dibawa kemanapun, bisa dibaca kapan dan dimanapun. Cocok dibaca oleh mereka yang masih lajang, yang akan menyiapkan pernikahan, pasangan muda atau baru menikah, juga pasangan yang sudah lama menikah dan ingin menghangatkan kembali bara-bara asmara dalam rumah tanngga. Cocok juga untuk menjadi kado pernikahan ^_^
Sejajar dengan seri sebelumnya, Sayap – Sayap Sakinah, maka tentu kedua buku ini saling melengkapi dengan bahasan pokok yang berbeda, dengan gaya bahasa yang ringan dan renyah. Namun, karena tema buku ini lebih mendalam tentang cinta dengan cover yang lebih “berani”, terasa lebih menggemaskan karena memang, tema cinta selalu asyik untuk dibahas. Mau, mau, dan mau lagi. Kita pun berharap agar seri selanjutnya, Sayap – Sayap Rahmah segera hadir untuk melengkapi kedua buku ini.
Akhirnya, saya sangat merekomendasikan Sahabat semua untuk membaca dan memiliki buku bagus ini. Sarat muatan ilmu untuk tetap menghangatkan hubungan bersama pasangan. Buku yang bagus, mengandung muatan ilmu yang bermanfaat untuk sebanyak-banyaknya orang lain.
Yuk, miliki bukunya. Selamat bertamasya di kebun kata. Jangan lupa memetik buahnya, ilmunya, untuk disuguhkan kepada pasangan terkasih Anda. Semoga resensi ini bermanfaat.
Wassalamu’alaikum Wr.Wb...

NB : Ikutan giveaway promtwit #Sayap2Mawaddah yuk, berhadiah paket buku menarik dari Penerbit Indiva dan tas HPO cantik dari LSM Seroja lho.. Yuk cek infonya ke blog Mbak Riawani Elyta, klik di sini ya... ^_^

             


7 komentar:

riawani elyta mengatakan...

Terima kasih ya Sri...reviewnya selalu komplit dan detil :)

Azzahra Fathurahman mengatakan...

Sama-sama Mbak,, alhamdulillah, senang bisa review karya - karya Mbak ^_^

Kazuhana El Ratna mengatakan...

Resensinya lengkap sekali. ^_^

Azzahra Fathurahman mengatakan...

Wah, terima kasih dah mampir Mbak Kazuhana El Ratna ^_^

Nurin Ainistikmalia mengatakan...

penasaran, saya belum baca yang seri sakinah, tapi jadi pengen baca, dan pengen punya,,, ^^

Azzahra Fathurahman mengatakan...

Ayo Mbak koleksi serinya, Insya Allah sangat bermanfaat dan kaya ilmu ^_^

Nufa Zee mengatakan...

Heuheu, perlu buku ini untuk menyalakan api cinta dalam RT #tsaah

Posting Komentar