Minggu, 17 Januari 2016




Judul Buku      : Rahasia Pelangi
Penulis             : Riawani Elyta & Shabrina Ws
Penerbit           : Gagas Media
Tahun Terbit    : 2015
Tebal Buku      : x + 326 hlm
Ukuran Buku  : 13 x 19cm
ISBN               : 979-780-820-3
Harga              : Rp67.000,_

Rahasia Pelangi :
Yuk Belajar Memahami Gajah dan Alam Melalui Cerita

          Anjani dan Chay, dua mahout muda pecinta gajah yang bekerja di Taman Nasional Tesso Nilo (TNTN), sebuah taman nasional yang terletak di Provinsi Riau, terbentang di empat kabupaten, yaitu Pelalawan, Indragiri Hulu, Kuantan Singingi, dan Kampar. Bersama para petugas dan mahout lainnya, mereka mencoba menjembatani dan mengatasi setiap ada konflik antara gajah dan manusia di sekita TNTN. Menjadi mahout, Anjani berhasil menghapus trauma masa kecilnya tentang binatang besar itu.

              Rachel, gadis bermata biru perwakilan CWO, sebuah organisasi peduli lingkungan mendapat tugas ke TNTN. Bersama Ebi, ia berangkat kesana. Rachel gadis cerdas sekaligus ceroboh.
          Anjani dan Rachel, dua gadis muda yang sama-sama merasakan perasaan nyaman ketika bersama Chay. Tetapi bagi Chay, jatuh cinta merupakan masalah perasaan yang tak mudah disimpulkan. Kecemburuan Anjani, kecerobohan Rachel, membawa mereka pada suatu musibah besar tatkala menghalau gajah gajah liar di perkampungan.
          Akankah sesal Anjani meluruh? Bagaimana dengan Rachel? Akankah gajah-gajah itu mendapat kehidupan yang nyaman tanpa harus takut pada ancaman pembunuhan dan pencurian gading oleh pihak pihak tak bertanggungjawab? Akankah mereka mendapat kembali habitat mereka yang kini telah disulap menjadi kebun-kebun sawit, dibakar, dan dirampas manusia?
*****

Gambar diambil dari sini

          Geregetan, tegang, haru, juga semu merah jambu silih berganti mewarnai perasaan tatkala menelusuri lembar demi lembar Rahasia Pelangi. Salut!
          Mengangkat tema yang menurut saya tak biasa, yaitu tentang keseimbangan hidup antara alam, manusia, juga binatang, khususnya tentang gajah, novel ini amat menarik minat saya untuk segera “meminangnya” tatkala membaca twit twit promonya di akun twitter beberapa host waktu itu. Sebelum itu, saya memang sudah tertarik karena jujur, Riawani Elyta, penulis novel ini merupakan salah satu penulis favorit saya yang karya-karyanya sebisa mungkin untuk saya miliki.
          Bersama rekannya, Shabrina Ws, Riawani Elyta menulis buku ini sebagai bentuk kepedulian mereka terhadap lingkungan dan binatang besar itu yang memang sering menyita perhatian tatkala terjadi insiden antara gajah dengan manusia yang tak jarang memakan korban dari kedua belah pihak. Ini buku duet kedua mereka. Sebelumnya, mereka menulis novel berjudul PING! yang mengangkat tema tentang penyelamatan orang utan di hutan Kalimantan. Tau nggak, Rahasia Pelangi ini perjalanannya sebelum terbitnya berkelok-kelok, hingga memakan waktu tiga tahun lho. Kerasa banget kan perjuangan para penulisnya....
*****
          Dalam konflik-konlik antara manusia dengan gajah, terkadang gajah-gajah tersebutlah yang dituding sebagai “pelaku” atau penjahatnya. Padahal, jika manusia mau sedikit berpikir dan memahami, gajah adalah binatang yang baik, tak akan mengganggu jika tidak diganggu. Bukankah perbuatan gajah-gajah yang memasuki perkampungan penduduk, mengamuk, hingga melukai warga dikarenakan ulah manusia juga? Hutan-hutan yang sejatinya adalah rumah bagi mereka, dijarah, dibakar, disulap menjadi kebun-kebun sawit. Masih ingat dengan peristiwa kabut asap yang beberapa waktu lalu menyedot perhatian masyarakat dalam dan luar negeri bukan? Musibah yang disebabkan pembakaran lahan hutan secara besar-besaran itu tak luput dari keserakahan manusia yang hanya mementingkan kemakmuran diri pribadi tanpa memikirkan keseimbangan hidup bagi alam, sesama, dan juga binatang, termasuk para gajah yang hidup di dalamnya. Ironisnya, sebakda pembakaran, timbullah pohon – pohon sawit di lahan pasca pembakaran.
          Hmmm,,, jadi emosional deh mengingat peristiwa-peristiwa tersebut. kita lanjut lagi yuk bahas Rahasia Pelangi nya ^_^
          Menurut saya, ada beberapa kelebihan yang menjadikan novel ini sangat nyaman dan renyah untuk dinikmati.
-   Pertama, dari segi tema. Mengusung tema khusus tentang gajah, sifat, dan kehidupan binatang besar ini merupakan sebuah poin plus. Tak banyak karya yang menyoroti tentang lingkungan dan kehidupan hewan. Menurut saya, banyak orang bisa menjadi penulis. Namun, menjadi penulis yang benar-benar menulis karena rasa kepedulian dan keprihatinan yang tinggi terhadap alam dan lingkungan sosial itu jarang. Salut buat tema novel ini.
-   Judul, menurut saya, Rahasia Pelangi merupakan judul yang unik. Isi cerita sama sekali tak ada kaitannya dengan pelangi, namun di salah satu qoute dalam novel ini yang menganalogikan rahasia hidup seperti pelangi, kita akan dapat memahami sebuah makna yang dalam tentang kehidupan.
-   Sudut pandang dalam bercerita menggunakan sudut pandang yang berganti-ganti antara Anjani dan Rachel. So, membuat gaya bercerita nggak monoton. Fresh deh ....
-   Meski ini buku duet, tak ada “keretakan” pada naskah dan cerita. Menyatu sebagai kesatuan utuh yang menyuguhkan cerita yang menyentuh. Bahasanya mengalir indah dan renyah. Bersemangat namun bisa tiba-tiba membuat terharu juga bersemu. Cara penulis dalam menyusun kata membuat saya sebagai pembaca mampu memvisualisasikan isi cerita dalam benak saya saat membaca, sekaligus merasakan sentuhan kedekatan dengan para gajah, seperti Indro, Beno, Rubi, dan Akasia, dengan karakter dan sifat mereka yang unik.
-   Banyak informasi yang saya dapatkan seputar gajah dan kehidupannya dari novel ini. Tentang sifat dan sikap para gajah yang ternyata sangat menarik untuk dipelajari. Tentang ketelatenan dan kerja keras untuk menjadi seorang mahout. Juga bagaimana mengatasi dan menjembatani konflik antara warga dan gajah yang sering terjadi, penulis menuangkan ide – ide mereka tanpa menggurui sedikitpun. Ide-ide mereka sukses dititipkan pada tokoh-tokoh dalam novel ini, misalnya Rachel yang cerdas dan penuh dengan ide-ide brilliant.
-   Interaksi dengan lawan jenis antara tokoh-tokohnya tetap berada dalam norma – norma kesopanan dan nilai-nilai yang islami. Misalnya, bagaimana pergaulan antara Anjani dan Chay yang meski hampir selalu berada di lingkungan yang sama, tak pernah terlibat dalam sikap-sikap yang tak pantas antara keduanya. Begitu pun antara Rachel, Chay, ataupun Ebi. Adab dan pesan tentang pergaulan jelas menjadi poin plus yang mengikat dalam novel ini.
-   Pesan – pesan berharga, misalnya tentang penerimaan total dari manusia terhadap takdir dan ketentuan yang sudah digariskan oleh Yang Maha Kuasa, yang menjadikan manusia mestinya tak boleh berputus asa terhadap segala macam musibah dan ujian kehidupan.
-   Quote – quote menarik yang bersifat mencerahkan, membangun, dan menyentuh menghiasi novel ini. Menjadikannya begitu manis tatkala membuaka bab-bab baru di lembarannya. Berikut beberapa kutipan quotenya yang membuat saya kadang berhenti sejenak dari membaca lembarannya, tertegun dan merenungi isi qoutenya.
v  Kita memang tak bisa lari dari masa lalu.
Namun, kita punya pilihan, berdamai dengan waktu.
v  Alam memberi banyak hal daripada yang ia dapatkan. Sementara itu, kita mencari banyak alasan untuk memberi pada alam.
v  Alam adalah guru yang tak menua oleh waktu.
v  Pada gajah, kita belajar ketulusan, bagaimana mendengarkan dan bersikap tenang.
v  Saat kerikil datang, cinta bisa bermetamorfosis menjadi rasa yang berbeda, dan jaraknya hanya tinggal selapis kertas dengan rasa benci.
v  Prasangka bisa mengubah setitik bara menjelma kobaran yang tak terduga.
v  Kadang, kaki terpeleset tak hanya di tempat basah, tetapi juga tergelincir di jalan berpasir. Namun, pasti tak ada satu langkah pun yang ingin terjatuh, apalagi tak bisa bangkit lagi.
v  Penyesalan adalah jembatan bagi jalan cahaya. Tapi, rasa bersalah sering kali menghalangi kita, untuk mengambil kesempatan kedua.
v  Perasaan putus asa adalah penderitaan paling menyakitkan daripada sakit itu sendiri.
v  Gajah menyimpan semua hal dari perjalanan hidupnya. Namun, mereka selalu bersikap dengan kejernihan pikirannya.
v  Jika semua hal diukur dengan materi, kau tak akan pernah selesai dengan dirimu sendiri.
v  Benci bisa mengubah keterasingan yang manis, menjelma keakraban yang anyir.
v  Semakin kamu membiarkan dirimu terpuruk, semakin sulit untukmu kembali bangkit.
v  Jika kita terus menerus menyalahkan diri akan sesuatu du luar jangkauan kita, bukankah itu sama artinya dengan kita meragukan Tuhan?
v  Tidak ada kehilangan yang lebih  besar daripada kehilangan hidup itu sendiri.
v  Ada perhatian tak kasat mata. Ia bernama, doa dalam diam.
v  Cinta seberapa banyak kau mengatalkan, melainkan sejauh mana kau membuktikan.
v  Hidup memang penuh rahasia. Seperti pelangi, ia tak bisa ditebak kapan datangnya.
Yup, itulah beberapa kelebihan novel ini menurut saya. Pastinya, ada banyak lagi. Mengenai kekurangan, saya rasa saya tak ada komentar nih. Saya terlalu terpesona dan jatuh cinta dengan novel , hihi  ^-^ ^0^
Sebagai pembanding, ingin rasanya saya membaca PING! Sayangnya, saya belum memiliki buku tersebut. dari sederet novel dan buku nonfiksi karya Riawani Elyta yang saya koleksi, ini buku duet fiksi beliau yang pertama saya miliki. Maka, ijinkan saya membandingkannya dengan buku-buku yang sudah saya miliki saja.
Saya memiliki Perjalanan Hati, A Cup of Tarapuccino, Tarapuccino, Jasmine, The Coffee Memory, Dear Bodyguard, A Miracle of Touch, Gerbang Trinil, dan beberapa buku nonfiksi hasil duet beliau dengan beberapa penulis lainnya. Dari buku-buku tersebut, yang paling membekas dalam hati saya adalah Perjalanan Hati karena tema yang diangkat dalam novel tersebut sebetulnya sederhana, tapi pas dengan kondisi saya saat itu. Berbeda dengan Perjalanan Hati, Rahasia Pelangi lebih “berjiwa muda” hingga membuat saya tersenyum-senyum, tersipu sendiri. ^_^ Tema Rahasia Pelangi pun lebih mengarah pada permasalahan yang lebih global karena menyangkut lingkungan hidup dan kelestarian lingkungan. Yang saya sukai dari buku-buku Riawani Elyta ini adalah tema-temanya yang seringkali menyentuh dan menyoroti tentang hal-hal yang dapat membuka wawasan pembaca, misalnya pada novel Jasmine yang membuka mata tentang maraknya perdagangan anak di bawah umur yang terjadi di pulau Batam, juga tentang perkembangan dunia bakery serta ilegal business dalam Tarapuccino.
Setiap buku memang memiliki ceritanya sendiri, ya??? J
            Kesimpulannya, cerita dalam buku ini benar-benar layak untuk dibaca. Menambah wawasan global dan kepekaan pembaca tentang fenomena yang kerap menjadi permasalahan bangsa ini. Selain itu, pembaca dapat sekaligus menikmati kisah romance nya yang sangat menyentuh. Juga sekaligus belajar bagaimana menjadi mahout yang baik lho. Siapa tahu saja setelah membaca Rahasia Pelangi, ada pembaca yang tiba-tiba terinspirasi untuk mendedikasikan dirinya menjadi mahout ya? ^_^
            Yuk, kita baca Rahasia Pelangi. Cintai karya lokal, memandang fakta lebih jauh bersama kata dalam cerita ^_^



7 komentar:

riawani elyta mengatakan...

Terima kasih Sri, reviewnya kumplit, ada perbandingan dengan novel2 saya yang lain juga hehe

Shabrina ws mengatakan...

Masya Allah.
Makasih banget ya Mbak. Semoga nanti bisa dapat PING ya. Sayang gak ada stok nih.
Makasih sekali lagi.
:)

Santi Dewi mengatakan...

tema novel ini memang unik ya, tentang gaja, membuat penasaran. Saya juga punya novelnya tapi blm saya review

Azzahra Fathurahman mengatakan...

Mbak Riawani Elyta : sama-sama Mbak... Senang bisa koleksi novel-novel Mbak :-)

Azzahra Fathurahman mengatakan...

Mbak Shabrina : Sama-sama Mbak... Semoga satu hari nnti bisa berjodoh dengan PING juga ^_^

Azzahra Fathurahman mengatakan...

Mbak Santi Dewi : Iya Mbak, unik, romantis *-*

Azzahra Fathurahman mengatakan...

Mbak Santi Dewi : Iya Mbak, unik, romantis *-*

Posting Komentar