Rabu, 25 November 2015



Judul Buku      : Soekarno Kuantar Ke Gerbang
Penulis             : Ramadhan K.H.
Penerbit           : Bentang Pustaka
Tahun Terbit    : 2014
Tebal Buku      : xvi + 416 hlm
Ukuran Buku  : 20,5cm
ISBN               : 978-602-8811-95-8
Harga              :Rp64.000,-

Kisah Cinta Inggit – Soekarno, 
Cara Asik Belajar Sejarah

            “ ... dan di balik lelaki hebat selalu terdapat wanita yang hebat.”
Inggit Garnasih, sosok mungil nan keibuan itu merupakan penyumbang sebagian besar kesuksesan yang diraih oleh bapak proklamator Indonesia, Soekarno atau yang lebih dikenal dengan sebutan Bung Karno atau Kusno di lingkungan orang-orang yang sekitarnya. Inggit adalah seorang wanita yang disunting Kusno sebagai istrinya. Namun, peran Inggit tak hanya sebagai istri yang berkutat di sumur, dapur, dan kasur seperti kebanyakan wanita lain di zamannya. Bagi Kusno, Inggit adalah seorang istri, seorang ibu, sahabat, kawan yang senantiasa mendengarkan dan menyokong segala kegiatan dan cita-citanya.
            Peran Inggit amatlah besar bagi perjuangan seorang Kusno dalam menwujudkan cita-cita kemerdekaan. Inggit seorang istri yang mandiri dan tak pernah memberatkan sang suami yang sibuk di lapangan dengan tetek bengek dapur maupun keluh kesah yang lain. Inggit bahkan yang membiayai sebagian kegiatan Kusno. Inggit seorang istri yang setia, selalu mengikuti Kusno dalam kedaan susah dan senang, termasuk ketika sang suami diasingkan ke beberapa daerah yang jauh, ke Ende dan beberapa daerah lainnya di Indonesia. Inggit, seorang istri sempurna dalam ketidaksempurnaannya sebagai perempuan. Tak sedikitpun ia kehilangan cinta kepada sang suami meski hidup terasa berat. Namun, perjuangan dan pengorbanan memang kadang tak selalu terbalaskan hal yang sama. Lelaki tetaplah lelaki yang kadang gampang tergoda ketika melihat bunga lain yang lebih muda dan elok. Begitupun Kusno yang tak sanggup membendung hasratnya untuk tak kembali jatuh cinta kala bertemu dengan sosok yang tak lain dan tak bukan merupakan anak angkat Inggit dan Kusno, Fatmah.
            Lalu bagaimana dengan Inggit, akankah pengorbanannya sia-sia selama masa-masa sulit bersama sang suami? Bagaimanakah rangkaian kisah cinta ini dipadukan dengan episode-episode kehidupan sang proklamator sebelum masuk ke istana?
*****
            Separuh dari prestasi Soekarno dapat didepositokan atas rekening Inggit Garnasih di dalam “Bank Jasa Nasional Indonesia”, ( S.I. Poeradisastra).
            Saya sangat sepakat dengan ungkapan S.I. Poeradisastra tersebut. Ungkapan yang sangat pantas untuk menggambarkan betapa besar jasa seorang Inggit Garnasih dalam menyokong, mengemong, dan mengantarkan seorang Soekarno menjadi pejuang yang mengantar bangsa Indonesia pada sebuah kemerdekaan.  Inggit, sosok istri idaman yang mandiri, tegar, menjadi tulang punggung dan tangan kanan sang suami. Inggit mampu menyesuaiakan dan menempatkan diri sebagai seorang istri pejuang kemerdekaan dengan menjadikan dirinya contoh bagi perempuan lainnya. Bagi Soekarno, Inggit adalah sosok istri, ibu, juga sahabat. Inggit sosok berlimpah kasih sayang bagi seorang Kusno yang sejak kecil kekurangan kasih sayang dan sentuhan sang ibunda.
            Besarnya peran Inggit ini diakui oleh Soekarno sebagai hutang budi yang tak mungkin terbalaskan seumur hidupnya. Soekarno mengakui hal ini secara terang-terangan pada acara penyambutan kebebasannya dari penjara Sukammiskin (Desember 1931), pada acara Kongres Indonesia Raya di Surabaya (2 januari 1932), dan dalam buku autobiografinya.
            Tulisan (novel) ini disusun Ramadhan K.H. sebagai sebuah roman dan bukan tulisan sejarah. Namun, mengutip apa yang disampaikan Tito Zeni Asmara Hadi dalam kata pengantar, “kalau kita menceritakan tentang Inggit, tidak akan bisa lepas dari kehidupan bersama Soekarno dan sejarah perjuangan bangsa ini untuk mencapai Indonesia merdeka”. Kutipan tersebut benar adanya karena kisah yang disajikan dalam buku ini bukanlah kisah rekaan atau kisah yang mengada-ada melainkah ditulis berdasarkan kisah hidup Inggit bersama Soekarno berdasakan hasil wawancara penulis dengan Bu Inggit.
            Kisah dalam buku ini mengalir teratur dengan menggunakan sudut pandang orang pertama (aku), yaitu bu Inggit, sebagai tokoh utamanya. Membaca bab satu ke bab yang lainnya seperti memakan kue lapis, membukanya selapis demi selapis, bukan langsung menggigit dan mengunyahnya begitu saja. Saya pribadi sebagai pembaca, terlarut dalam penuturan sang tokoh, seolah-olah bukan sedang membaca buku, melainkan berhadapan langsung dengan sang tokoh utama, saya dibiarkan mendengarkan sembari menyaksikan slide demi slide penuturan tersebut berputar di hadapan saya. Saya tidak merasa digurui apalagi sekaku pelajaran Sejarah di sekolah. Emosi saya “terbawa”, kadang saya berhenti sejenak kemudian berpikir, “seandainya saya yang jadi Inggit, dan seterusnya, dan seterunsnya...” Saya turut “terhanyut”. Intinya, saya sangat menikmati gaya penulisan dalam novel ini. Membaca novel ini menurut saya merupakan cara asik belajar sejarah sambil menikmati kisah cinta seorang istri kepada suami yang diwarnai perjuangan dan pengorbanan yang besar, bukan kisah cinta yang kekanak-kanakan seperti pada zaman ini.
            Membaca kisah cinta dan kehidupan Inggit – Soekarno, turut mengurai tahapan–tahapan penting sejarah jatuh bangunnya perjuangan sang proklamator dalam memperjuangkan kemerdekaan Indonesia. Tak semata kisah cinta dan kehidupan pribadi yang diuraikan disini, melainkan pada setiap kisah cinta dan kehidupan pribadi Inggit dan Soekarno juga senantiasa melekat kisah perjuangan dan aktivitas sehari-hari Soekarno yang terlebih sering berada di luar rumah untuk bertemu tokoh-tokoh penting sebagai rekan seperjuangan dalam rapat-rapat penting yang sifatnya rahasia maupun terbuka, aktivitas dalam kongres-kongres kepemudaan, perjalanan keluar masuk penjara, diasingkan, hingga tiba sang proklamator di gerbang istana.
Sayangnya, dan ini membuat perasaan saya nelangsa (ehem), mengusik sisi sensitif saya sebagai wanita  sekaligus seorang istri, bahwa nyatanya perjuangan hebat dan berat dari seorang istri yang hebat hingga mengantarkan sang suami ke gerbang pencapaian ambisi dan mimpi-mimpinya, akhirnya diceraikan demi sesosok wanita lain yang lebih muda. Ironis. Tapi itulah adanya, bahwa kehidupan seorang lelaki hebat sekalipun tak pernah sempurna karena ia hanya manusia biasa. Maka baiklah, mari kita abaikan sisi negatif kehidupan sang tokoh kemerdekaan, tanpa melepas simpati kepada tokoh utama. Belajar dari Inggit, tentang cinta, maaf, dan juga doa.
Baiklah, sampai disini dulu ya resensi dari saya. Pokoknya, saya sangat merekomendasikan buku ini bagi sahabat semua. Buku ini merupakan cara asik belajar sejarah sekaligus menikmati indahnya romantika cinta dan pengorbanan.
Selamat bertamsya di kebun kata. Semoga bermanfaat.        
           
           
           


2 komentar:

Areno Kakutasu mengatakan...

wahhh...jadi pengen baca nih..:)

Azzahra Fathurahman mengatakan...

Baca yuk Mbak bukunya,,, buku bagus ini ^_^

Posting Komentar