Minggu, 23 Februari 2014

Review Novel Melepaskanmu


Judul Buku   : Melupakanmu
Penulis           : Helga Rif
Penerbit         : Rak Buku
Tahun Terbit : November 2013 (Cet.IV)
ISBN               : 602-751-748
Tebal Buku   : 318 hlm
Ukuran           : 13 x 19 cm
Genre             : Roman
Harga             : Rp59.500,-

Sebuah Cerita Cinta yang Lain
          Dikhianati oleh tunangan atau calon suami merupakan sebuah pukulan yang amat menyakitkan bagi seorang wanita, apalagi pernikahan telah di depan mata beberapa bulan lagi. Sakitnya, terlebih untuk sebuah hubungan cinta yang telah terjalin tiga tahun lamanya.

          Begitulah perasaan sakit yang dirasakan Sarah, gadis cantik dan ramah, dengan senyum yang amat menawan. Sebuah pengakuan yang meluluhlantakkan hatinya justru datang dari seorang wanita yang mengaku tengah mengandung bayi dari Bondan, tunangan Sarah. Sarah yang polos, Sarah yang hanya selalu mencintai Bondan. Andai hatinya terbuat kaca, maka hati itu kini sudah tak berbentuk lagi, hancur berkeping-keping.
          Bondan, lelaki itu sesungguhnya sangat mencintai Sarah. Apapun dilakukannya untuk mendapatkan maaf dari Sarah. Sarah adalah cintanya, hidupnya. Akankah cinta Sarah dan Bondan kembali satu, diantara rasa sakit dan rindu yang terus membuncah? Ataukah Sarah akan menerima hati seorang Hendy, sahabat yang tulus dan perhatian? Akankah Sarah melepaskan Bondan ataukah Hendy yang mesti melepaskan Sarah? Bagaimana pula dengan kisah asmara Rio, kakak Sarah, dengan kekasih gay nya?
*****
          Buku fiksi dengan kisah yang lembut, tampil dengan cover minimalis dan judul yang sederhana namun mendalam. Berkisah tentang cinta antara anak manusia yang memang menjadi warna dalam kehidupan sehari-hari. Cinta memang indah dan unik sekaligus rumit, bahkan ketika ia menggoreskan luka. Ah, sebetulnya memang bukan cinta yang menggoreskan luka itu, tetapi para pelakon cinta yang kadang tak menyadari atau kurang menghargai arti cinta sejati.
          Dalam buku ini, penulis mengisahkan dengan komplit betapa peliknya perasaan cinta yang telah mengakar sebegitu dalam dan kuatnya tertancap di relung hati, namun harus terlukai oleh orang yang dicintai. Alangkah lelahnya pergulatan batin antara memaafkan kemudian kembali membangun puing cinta yang telah retak, atau melepaskan seseorang itu karena tak ingin terluka kembali. Semakin lelah demi merasakan cinta dan kerinduan yang begitu besar hatta hati telah dikhianati.
          Novel ini mengambil setting di kota Jakarta. Selain itu, dalam cerita juga diselipkan tentang hari-hari Sarah selama mengikuti gathering di Bali. Dalam bagian ini, penulis banyak menggambarkan tentang keindahan pesona dan hidangan khas Bali. Jadi bisa sekaligus promosi kepada para pembaca yang senang melakukan kegiatan wisata agar semakin tertarik berkunjung. Sekilas, penulis juga menambahkan cerita bahwa tokoh utama, Sarah, sempat berkunjung ke Lombok untuk menghadiri pernikahan sahabatnya. Bahkan nama hotel yang disebutkan juga memang benar-benar merupakan nama sebuah hotel di Lombok. Tentu saya sebagai pembaca sangat senang apalagi saya memang tinggal di Lombok. Saya rasa, penulis memilih menyelipkan Bali dan Lombok dalam novel ini karena memang penulis berdomisili di Denpasar, Bali.
          Konflik yang dikisahkan juga seru. Penulis berhasil menarik ulur emosi pembaca untuk turut larut dalam permasalahan para tokohnya, terutama konflik yang dihadapi oleh tokoh utama perempuan dalam novel ini. Apalagi jika pembaca adalah perempuan, tentu akan lebih mudah menghayati dan turut terjun dalam belitan perasaan sang tokoh. Hanya saja, terkadang ceritanya agak sedikit terasa datar, mungkin karena tokoh Sarah yang digambarkan begitu sopan, terlalu sopan sehingga reaksinya terasa kurang greget bahkan ketika menghadapi masalah yang amat besar bagi seorang perempuan. Oh ya, dari kisah cinta Rio (kakak Sarah), terkesan penulis mendukung kisah cinta yang nyata-nyata mengalami penyimpangan orientasi seksual atau hubungan cinta sesama laki-laki (gay).
          Pesan yang bisa ditangkap dari novel ini, menurut saya, yaitu tentang bagaimana seseorang, terutama para wanita mesti mampu mengelola hati, mampu memilah antara sebuah kebersamaan yang dirasanya hanya dengan terwujudnya kebersamaan itu ia dapat bahagia selama hidupnya, ataukah move on untuk menata hidup baru dan membiarkan waktu membalut segala luka hati yang pernah tertoreh atas nama cinta. Tak mudah memang, tapi disinilah letak kedewasaan sikap yang dituntut untuk mampu memilih arti sebuah kebahagiaan yang sesungguhnya.
Sekian resensi ini. Semoga bermanfaat dan selamat membaca.

         



1 komentar:

alfiani zhukruful fitri mengatakan...

kak, judulnya melepaskanmu, kan? bukan melupakanmu? -sekedar koreksi^^

Posting Komentar