Rabu, 18 Desember 2013

Tentang Cinta Mereka ...


Cinta....
Apa yang lebih indah dari perasaan cinta, bahkan ketika ia mengurai air mata???
Aku selalu ingin menulis tentang kisah cintaku, tapi kali ini biarkan aku menulis tentang cinta antara dua insan yang aku cintai... Ya! Ini kisah perjalanan cinta antara ayah dan ibuku...
*****
34 tahun silam...
Tiba-tiba saja bumi terasa terlalu sempit ketika musibah itu terjadi. Dua waktu yang hampir bersamaan, di tempat yang berbeda, dua insan manusia berbeda jenis itu kehilangan pasangan hidup tempat mencurahkan kasih sayang ataupun merebahkan lelah. Sang pria kehilangan istri yang telah memberinya dua putra dan seorang putri akibat sakit berkepanjangan. Sang wanita kehilangan lelaki yang telah melindunginya dalam naungan rumah tangga selama tiga tahun hanya dalam hitungan jam dari waktu lelakinya pamit menengok tanaman mereka di sawah. Lelakinya pergi untuk selamanya dalam hujan berangin, tewas tertimpa sebatang pohon ara tua yang tiba-tiba tumbang mengenainya. Sungguh pilu, apalagi kepergian sang tambatan hati meninggalkan pula anak-anak yang keseluruhannya masih kecil, bahkan belum satu pun dari mereka yang sudah sekolah. Sang lelaki memiliki tiga anak yang masing-masing berusia 6, 5, dan 3 tahun sedangkan sang wanita ditinggalkan dengan anak lelakinya yang masih berusia 2 tahun.
            Alangkah besarnya rasa sedih dan kehilangan itu, terlebih ketika memandang anak-anak yang masih kecil dan belum mengerti tentang kematian. Terkadang mereka bertanya, kemana ibu? Kemana ayah? Kenapa ibu tak bangun-bangun? Ahhh,,, hati dan pikiran bahkan terasa sulit untuk mencerna tentang takdir dan rencana-Nya. Namun begitulah hidup. Bahkan cobaan terberat tak boleh memberangus iman dan keyakinan akan hikmah di balik setiap peristiwa.
            Setahun berlalu semenjak hari yang kelabu itu. Sepi dan rindu kadang terasa sesak dan berlabuh pada sujud panjang di malam-malam yang senyap. Hingga tibalah pada suatu hari dimana pertemuan keluarga itu digelar. Sang duda diajak untuk silaturahim ke rumah kenalan orang tuanya. Sebenarnya ia tau, ada maksud di balik ajakan itu. Orang tuanya pernah bicara tentang anak perempuan dari kenalannya yang juga menjanda karena ditinggal mati suaminya. Bukan enggan untuk bertemu, tapi bayangan sang istri masih belum bisa dibiarkannya untuk ditempati wanita lain. Tapi perjalanan takdir berkata lain. Kegigihan dari kedua keluarga akhirnya mempertemukan sang duda dan janda itu dalam suatu ikatan pernikahan. Pernikahan yang canggung, terlebih karena anak-anak yang belum mampu menerima sepenuhnya kehadiran seorang ibu dan saudara tiri.
            Suami dan istri baru, awalnya memang tak terbiasa. Terlebih karena pernikahan mereka adalah hasil perjodohan dari keluarga. Namun, waktu yang terus bergulir juga bisa menumbuhkan cinta antara mereka. Cinta yang tumbuh karena komitmen untuk mengasuh anak-anak bersama dalam rumah tangga yang utuh. Sang istri merawat ketiga anak tirinya bersama putra tunggalnya dari suami terdahulu dengan cinta dan kehangatan meski karena itu tak lantas membuat ketiga anak tirinya memanggilnya dengan panggilan ibu. Mereka tetap memanggilnya dengan kata “bibi.” Tak apa, setidaknya putranya memiliki sosok yang disebutnya ayah.
            Membangun rumah tangga dengan membawa anak masing-masing tentunya bukan perkara mudah. Bagi sang suami, kini tanggungannya bertambah dengan kehadiran seorang anak tiri. Bagi sang istri tentu terasa lebih berat lagi membagi rata perhatian dan kasih sayangnya secara adil antara anak kandung dan anak tiri. Kesabarannya pun tak urung diuji dengan berbagai tingkah bandel anak-anak itu. Ingin marah, sebisa mungkin harus bisa menahan diri. Rasa-rasanya lebih mudah memarahi anak sendiri daripada memarahi anak yang bukan darah daging sendiri. Tapi waktu memiliki caranya sendiri untuk mengobati lelah-lelah yang sering menyambangi jiwa.
            Pernah suatu ketika, ibu marah besar kepada tiga anak tirinya tersebut. Perkaranya, mereka bertiga kompak mengerjai si adik tiri yang masih mungil itu. Si adik ditinggal bermain sendiri di halaman rumah, kemudian tertatih-tatih ia berjalan keluar dari pekarangan. Mungkin insting polosnya begitu penasaran melihat cikar (cidomo) yang berlalu-lalang. Nyaris tubuh mungilnya tertabrak seandainya sang kusir tidak cekatan menghentikan laju kuda. Ibu yang sibuk beres-beres rumah terpekik mengetahui hal itu. Alhasil, amarahnya memuncak dan nyaris memukul ketiga anak tiri itu. Tapi kewarasan masih melekat sehingga hanya kata-kata bernada amarah yang ia keluarkan. Pun begitu, tak urung membuat ketiga anak tersebut menangis sampai sang ayah kembali dari ladang. Memang dasar anak kecil, langsung saja mengadu sehingga membuat suasana rumah menjadi tak nyaman. Sang ayah jadi berprasangka, mengira ibu kelewatan.Seandainya saja ayah terlebih dahulu bertabayun dan berbaik sangka. Tak perlu aura rumah menjadi dingin. Namun, lagi-lagi cinta menunjukkan keajaibannya. Karena cinta tak melulu hanya tentang dirinya, tapi juga tentang sebuah keutuhan.
Perjalanan waktu menguatkan rasa kasih antara suami istri itu. Dari pernikahan mereka, lahir putra pertama yang kemudian disusul dengan anak kedua, ketiga, keempat, dan kelima. Seiring perjalanan waktu pula anak-anak mereka tumbuh besar dan sehat. Anak pertama dan kedua dari sang suami dengan istri terdahulunya bahkan sudah menikah dan tinggal terpisah dari mereka. Ada yang sudah SMA dan SMP. Rumah juga menjadi semarak dengan anak-anak mereka yang lain. Ahh, cinta akhirnya mengalahkan lelah dan membebat luka-luka jiwa. Cinta yang tumbuh bersama komitmen yang teguh. Cinta, yang juga membuatku lahir ke dunia ini. Aku, anak kedua dari ayah dan ibuku, sang duda dan janda yang dulunya dijodohkan itu. Hidup dan tumbuh bersama cinta meski terkadang batu cadas menggores tapak kaki di setiap langkah-langkah kami. Cinta,,, keajaibannya menyemarakkan dunia dan rumah cinta kami... J



 


Alasan kenapa saya sangat menginginkan novel A Miracle of Touch:
Menurut saya, sangat lengkap alasan untuk ingin memiliki dan langsung jatuh cinta kepada novel ini meski baru membaca sinopsisnya saja. Setelah membaca behind the scene dan cuplikan dialog novelnya, wah, saya benar-benar terpukau. Tema yang diangkat, setting, tokoh, dan kisah yang berbeda benar-benar membuat saya penasaran. Apalagi tokoh yang ditampilkan adalah orang India, otomatis novel ini menjadi beda dengan yang lain. Saya memang penggemar cerita bollywood sehingga ketika membaca tentang novel ini, saya semakin tertarik. Benar-benar ingin membaca dan menuntaskan langsung isi ceritanya. Semoga saya bisa beruntung dalam kuiz kali ini ^_^













2 komentar:

Ita Zahar mengatakan...

Berkunjung ke tulisan pemenang^^
Selamat ya, tulisan ini bagus, Pantas banget jadi pemenang GA dan dapet novelnya.

Saya tunggu kunjungan baliknya ke http://juwitazahar.blogspot.com ya.
Salam kenal :)

Azzahra Fathurahman mengatakan...

Salam kenal juga Mbak...
Makasih udah dibilang bagus :D
Alhamdulillah.. Yup, saya segera meluncur ke blognya...

Posting Komentar