Jumat, 25 Oktober 2013

RESENSI NIH ^_^












RESENSI
Judul Buku      : A Cup of Tarapuccino
Penulis             : Riawani Elyta & Rika Y. Sari
Penerbit           : Indiva Media Kreasi
Tebal Buku      : 304 halaman
Ukuran Buku  : 19 cm
ISBN               : 978-602-8277-88-4
Harga Buku     : Rp39.000,-

Secangkir Cinta, Rindu, Dan Harapan
            Ada seseorang dari masa lalu. Seseorang yang hampir menjadi bagian penting dari kehidupannya. Sosok yang tak pernah ia temui, pun juga tak  mengetahui meski sekedar namanya. Namun entah mengapa menautkan harapan ketika pertemuan yang tak pernah terencana itu muncul kembali seiring waktu tanpa mereka menyadarinya.
            Saat pertama kali melihatnya, kau akan merasa seolah melihat sebuah peach dengan warna kulitnya yang cantik, membuat orang pasti tak tahan untuk mengupasnya, dan isi di dalamnya juga tak kalah mempesona. Tapi, di saat kau memakannya, pertama-tama kau akan terkejut dengan rasa asamnya yang sangat. Tapi saat kau terus mengunyahnya, kau akan merasakan rasa dan sensasi yang luar biasa, sensasi rasa yang elegan, yang membuat kau tak akan bisa melupakannya.”
            Ungkapan “pamungkas” yang hingga detik akhir masih tak dimengerti Diaz tentang gambaran seorang gadis yang akan dita’arufkan dengannya, namun tak bisa ia temui karena takdir lain yang menimpa memaksanya untuk menjalani kehidupan yang berbeda dengan yang pernah dibayangkan sebelumnya. Hingga perjalanan waktu mempertemukannya dengan Tara di saat kritis hidupnya.
            Tara, seorang wanita cerdas nan sopan dan perfeksionis yang menjunjung tinggi prinsip-prinsipnya dalam menjalankan usaha bakery yang dirintisnya bersama Raffi, sang sepupu. Tak pernah terlintas pikiran lain selain menjalankan bakerynya hingga kehadiran sosok pemuda jangkung penggemar cinnamon cappuccino itu, Hazel, yang selalu rutin hadir di bakerynya itu hingga menjadi partner kerjanya, mampu mengusik sisi lain hati Tara dalam nuansa yang sama sekali bernbeda dengan yang ia rasa sebelumnya, bahkan terhadap Raffi yang ternyata memendam sebentuk rasa yang sama kepada Tara seperti rasa yang Tara rasakan kepada Hazel.
            Goresan takdir yang memberikan Tara dan Hazel nasib yang berbeda, namun menyelipkan rasa yang sama, tragis, tak terungkap maupun terucap, karena kerasnya garis kehidupan yang mesti dijalani Hazel maupun Diaz, namun justru disadari Tara saat pemuda itu telah menghilang. Diaz dan Hazel, yang ternyata satu wujud, dan sosok yang sama yaitu pemuda yang hampir menjadi bagian dari hidup masa lalunya tersebut. Sayang, pertemuan mereka yang mengejutkan dua tahun berselang, dengan perasaan yang tak kunjung lekang, entah akankah terwujud di saat Tara telah menerima lamaran sepupunya, Raffi.
***
            Membaca novel ini meninggalkan kesan haru di hati saya. Tentang perjuangan hidup seorang Diaz atau Hazel, kerasnya kehidupan baginya hingga rasa cinta yang menguarkan rindu dan harapan yang terwujud dengan kehadiran raga namun takdir membuat harapan itu terasa sulit hingga ke akhir cerita.
            Menurut saya, alur cerita yang dihadirkan dalam novel ini menghadirkan poin plus tersendiri. Gaya bercerita yang begitu lincah, hidup, dan sangat detail membuat saya sekan-akan berada dalam cerita, serasa berada di kota Batam di sebuah bakery yang terasa begitu sempurna bentuk, kegiatan, owner,serta para karyawan, dengan aktivitasnya yang terasa begitu riil dan hidup. Seakan-akan saya mampu menghirup harum aroma cappuccino, disajikan dengan seiris roti hangat yang begitu menggiurkan dan menggugah selera. Bahkan menghadirkan imaji seandainya saya juga bisa membangun kedai roti seperti itu di kota saya
            Kisah Tara dan Hazel (Diaz) juga dihadirkan dengan begitu bagus, menghadirkan harap dan praduga saya tentang endingnya yang ternyata berbeda dengan yang saya pikirkan. Mampu menghadirkan rasa haru dan sejumput harapan tentang kisah mereka di akhir dalam kehidupan nyata ketika selesai membaca novel ini.
            Sulit bagi saya menemukan kelemahan dalam novel ini karena deskripsinya yang begitu mendetail. Pun pada sikap dan watak para tokohnya, Tara yang begitu perfeksionis sikap, pemikiran, dan penampilannya, Diaz / Hazel yang berada pada lingkaran nasib dan perjuangannya yang terasa begitu riil, serta Raffi yang protektif. Karakter yang saling mengimbangi. Namun akhir cerita sedikit mengusik bagi saya karena akhir cerita tentang kisah perasaan antara Tara dan Hazel tak diakhiri melainkan dibiarkan menggantung. Pelemparan akhir cerita yang diserahkan kepada pembaca entah ditafsirkan bahagia atau kasih tak sampai. Sebagai pembaca, tentunya saya lebih berharap jika kisah mereka diakhiri dengan bahagia, misalnya pembatalan pertunanagn antara Tara dan Raffi, serta Raffi yang berbesar hati memberikan kebahagiaan itu kepada Tara dan Hazel. Serta bagaimana Hazel dapat bertemu kembali nantinya dengan adik-adik tirnya. J
            Dibandingkan dengan novel Tarapuccino (A Cup Tarapuccino sebelum revisi), tentu saja pada edisi yang telah direvisi ini kisah dihadirkan lebih lengkap. Terdapat penambahan deskripsi yang lebih padat pada sebagian besar babnya, penambahan bab baru, prolog, epilog, flashback story, perubahan ukuran buku, cover yang lebih kalem dari sebelumnya, intinya novel ini lebih apik dan sempurna. Membaca buku ini akan memperkaya nuansa sastra dalam diri pembaca, khususnya pecinta sastra-sastra original karya penulis dalam negeri. Belitan konflik yang disajikan dalam buku ini akan memacu adrenalin untulk segera menuntaskannya. Salah satu buku yang tak akan bosan dibaca berulang-ulang. Sangat layak untuk kita miliki.
Semoga resensi ini bermanfaat dan selamat membaca ^_^




4 komentar:

eLKaNisa Mahdi mengatakan...

kereeeen cuy

Azzahra Fathurahman mengatakan...

ahhayyyy ^_^

eLKaNisa Mahdi mengatakan...

yg di blog, penilaiannya kaya gimana?

riawani elyta mengatakan...

wah, punya dua2nya, makasih yaa reviewnya :D

Posting Komentar